BPBD Kab. HSS, Kandangan Kamis 9 Maret 2023
Halo Sobat BPBD, sebelum kita memulai aktifitas hari besok, ada baiknya cek dulu prakiraan cuaca, dan prakiraan gelombang untuk hari besok Jum’at 10 Maret 2023. sebagai berikut :



Sumber : Instagram @cuacakalsel
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Kamis 9 Maret 2023
Sobat BPBD, sebentar lagi musin penghujan akan berganti ke musim kemarau di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, seperti tahun yang lalu banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan, yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan timbulnya asap yang menjadi masalah Kesehatan, oleh karena itu mohon waspada dengan kondisi ini dan tetap tenang serta berhat-hati. Ayo simak informasi dibawah ini :

Apa itu KARHUTLA???
KARHUTLA adalah singkatan dari Kebakaran Hutan dan Lahan.
Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu peristiwa terbakarnya hutan atau lahan baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik.
Menurut buku Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut (2005), pengertian Kebakaran Hutan dan Lahan adalah suatu peristiwa kebakaran, baik alami maupun oleh perbuatan manusia yang ditandai dengan penjalaran api dengan bebas serta mengonsumsi bahan bakar hutan dan lahan yang dilaluinya.
Nah!! Berapa luas terjadi KARHUTLA di Indonesia dan di Kab. Hulu Sungai Selatan
Menukil dari laman databoks.katadata.co.id, luas areal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia sepanjang tahun 2021 meningkat apabila dibandingkan pada tahun 2020. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia mencapai 354.582 hektare atau mengalami peningkatan 19,4% dibandingkan pada 2020 yakni 296,942 ha. Secara kumulatif sejak 2016 hingga 2021, 3,43 juta ha hutan dan lahan telah terbakar di Indonesia. Karhutla tahunan terburuk terjadi pada tahun 2019 yang membakar 1,6 juta ha hutan dan lahan.
Untuk Luas Karhutla di Kab. Hulu Sungai Selatan berdasarkan Data Dari BMKG dan Patroli Udara BNPB Provinsi KalSel, sepanjang tahun 2021 seluas 829.7 ha dan tahun 2022 per 31 Oktober 2022 menurun menjadi 82.07 ha.




Apa Saja yang Menjadi Penyebab Kebakaran Hutan?
Kebakaran hutan bisa disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor alami dan faktor manusia. Faktor alami misalnya pengaruh El-Nino yang menyebabkan kemarau panjang sehingga tanaman menjadi kering dan mudah terbakar. Sedang faktor manusia contohnya berupa pembukaan lahan dengan cara membakar atau pembuatan api unggun yang lupa dimatikan sehingga menyambar pepohonan atau semak dan menyebabkan kebakaran.
Selain penyebab tersebut diatas, penyebab kebakaran hutan adalah:
Salah satu penyebab kebakaran hutan secara alami yaitu akibat adanya petir. Sambaran petir mengenai pohon atau semak kering bisa menimbulkan api yang kemudian membuat seluruh hutan ikut terbakar.
Di Indonesia, kasus kebakaran akibat sambaran petir pernah terjadi di Gunungputri Kabupaten Bogor. Kebakaran terjadi di sebuah kebun yang menjadi penyimpan tumpukan ban bekas. Kebakaran terjadi akibat sambaran petir pada pohon, lalu timbul api yang merambat ke tumpukan ban bekas, dikutip dari antaranews.com.
2. Letusan Vulkanik Gunung Berapi
Letusan vulkanik gunung berapi juga menjadi faktor alami penyebab kebakaran hutan. Umumnya, kebakaran hutan terjadi akibat lava panas yang mengalir akibat dari letusan gunung.
Mengutip dari laman antaranews.com, kebakaran hutan akibat erupsi gunung pernah terjadi di Indonesia tepatnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan hutan lindung di sekitar puncak Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, NTT terbakar akibat erupsi gunung. Tercatat, kobaran api akibat kebakaran tersebut mencapai kurang lebih 1,8 kilometer dari puncak gunung.
3. Musin Kemarau
Memasuki musim kemarau, potensi terjadinya kebakaran hutan makin meningkat. Sebab, selama satu musim tersebut mungkin akan jarang atau bahkan sama sekali tidak terjadi hujan. Padahal, tinggi rendahnya intensitas hujan berpengaruh pada jumlah kebakaran yang diidentifikasi dengan adanya hotspot (titik panas). Makin rendah intensitas curah hujan maka akan semakin meningkat pula jumlah hotspot yang ada.
Cuaca dan iklim memang memiliki pengaruh terhadap kebakaran hutan sebab terdapat hubungan yang saling berkaitan yaitu:
Selain itu, faktor-faktor cuaca seperti suhu, kelembapan, stabilitas udara, serta kecepatan dan arah angin secara langsung juga memengaruhi terjadinya kebakaran hutan.
4. Kondisi Tutupan Lahan dan Jenis Tanah
Di beberapa spesifik lokasi seperti Sumatra dan Kalimantan, penyebab kebakaran hutan sangat dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan maupun jenis tanah serta berkaitan dengan ketersediaan biomassa yang menjadi salah satu komponen utama terjadinya kebakaran. Dalam kondisi musim kemarau yang ekstrem, ketersediaan biomassa yang tinggi akan memperbesar potensi terjadinya kebakaran lahan.
Selain itu, jenis tanah juga ikut berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Lahan gambut adalah salah satu ekosistem yang mempunyai tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi. Hal ini disebabkan lahan gambut mengandung material atau bahan organik sangat banyak yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah, bersifat tidak mampat, dan hanya sedikit mengalami perombakan.
Secara alami kondisi lahan gambut memang selalu basah yang mana membuatnya sukar terbakar. Namun, gambut akan sangat mudah kering jika air yang terdapat di dalamnya dikeringkan melalui pembuatan kanal-kanal yang tidak memperhatikan aspek hidrologis gambut. Hal tersebut lantas menyebabkan areal bergambut rusak sehingga menjadi penyebab kebakaran hutan di musim kemarau.
5. Pembukaan Lahan secara Dibakar
Aktivitas masyarakat mengolah lahan pertanian/perkebunan dengan menggunakan metode tebas-bakar (slash and burn) juga menjadi penyebab kebakaran hutan. Masyarakat memilih metode tersebut karena mempertimbangkan beberapa hal seperti keterbatasan tenaga kerja, keterbatasan mobilitas menuju lahan, serta keterbatasan modal. Alhasil, pembakaran menjadi salah satu cara penyiapan lahan yang paling mudah dan murah.
6. Api Unggun
Aktivitas manusia yang lalai juga bisa menjadi penyebab kebakaran hutan, salah satunya dari api unggun. Momen ketika api unggun menjadi penyebab kebakaran hutan antara lain saat api unggun tanpa pengawasan, api unggun menjadi tidak terkendali dan api unggun sepenuhnya tidak padam.
Di Indonesia pernah terjadi kebakaran yang menghanguskan kawasan hutan perdu di lereng Gunung Sindoro akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Menurut otoritas setempat penyebab kebakaran kemungkinan karena faktor manusia dalam hal ini pendaki yang lalai tidak mematikan api unggun di puncak sebelum turun gunung.
7. Angin
Angin merupakan salah satu faktor penting dari faktor-faktor cuaca yang menjadi penyebab kebakaran hutan. Angin bisa menyebabkan kebakaran hutan melalui beberapa cara. Angin membantu pengeringan bahan bakar yaitu sebagai pembawa air yang sudah diuapkan dari bahan bakar.
Lebih lanjut, tiupan angin juga memperbesar kemungkinan membesarnya nyala api dari sumber seperti korek api, obor, dan kilat. Sekali nyala api tersulut, maka kecepatan pembakaran dan perkembangan api akan meningkat seiring membesarnya tiupan angin.
8. Perburuan Satwa Liar
Perburuan satwa liar juga bisa menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan. Apalagi jika perburuan dilakukan menggunakan senapan api. Selain itu, pemburu juga biasanya akan mendirikan tenda dan membuat api unggun baik untuk memasak atau sekadar menghangatkan diri.
9. Kelembapan Udara
Kelembapan udara berasal dari evaporasi air tanah, badan air, dan transpirasi tumbuh-tumbuhan. Kelembapan udara di dalam hutan sangat memengaruhi pada mudah tidaknya bahan bakar yang ada untuk mengering. Apabila bahan bakar tersebut mudah mengering, maka bisa menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan.
Sementara itu, cuaca atau iklim merupakan faktor yang sangat menentukan kadar air bahan bakar hutan, terutama peran air hujan. Ketika musim kering, kelembapan udara sangat menentukan kadar air bahan bakar.
10. Akumulasi Serasah Daun Kering
Penyebab kebakaran hutan berikutnya adalah adanya akumulasi serasah daun kering. Serasah daun kering adalah limbah yang berasal dari sisa tanaman yang berupa daun-daun kering. Biasanya serasah daun ini berjatuhan dan berkumpul di bawah-bawah pohon. Keberadaannya memang bisa menjadi penambah hara tanah.
Namun, serasah daun kering juga bisa memperparah atau membuat kebakaran bertambah besar. Akumulasi serasah kering merupakan bahan bakar yang dapat mempengaruhi perilaku api, bukan sebagai sumber api penyebab kebakaran.
11. Pembakaran Padang Penggembalaan
Aktivitas pembakaran juga dilakukan oleh beberapa orang dan petani pada musim kemarau di padang penggembalaan. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan rumput-rumput muda sehingga persediaan pakan tetap terjamin, tetapi aktivitas ini menimbulkan dampak negatif termasuk dapat menjadi penyebab kebakaran hutan.
Mengutip dari Jurnal berjudul “Hubungan Pembakaran dengan Padang Penggembalaan dan Aktivitas Pertanian di Nusa Tenggara Timur” Menurut Hernaux dan Diara (1984) produksi bahan kering dari rumput Andropohon gayanus dari lahan yang dibakar secara nyata lebih tinggi dari yang tidak dibakar.
Apa Upaya yang bisa Dilakukan untuk Mencegah Kebakaran Hutan???
Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan antara lain:
Itulah informasi mengenai penyebab dan upaya apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya KARHUTLA. Intinya, kita perlu memiliki kesadaran akan bahaya jika terjadi hal tersebut. Dengan demikian, kita akan lebih berhati-hati dan berusaha meminimalisir kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Demikian informasi sederhana ini kami sampaikan, ketemu lagi dengan materi selanjutnya. Terima kasih.
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
File_Penyuluh_Bencana_BPBD_HSS_2023
BPBD Kab. HSS, Kandangan Kamis 9 Maret 2023.
UPDATE Peringatan Dini Cuaca Kalimantan Selatan tgl 9 Maret 2023 pkl 13:00 WITA masih berpotensi terjadi Hujan Sedang-Lebat yang dapat disertai Kilat/Petir dan Angin Kencang pada pkl. 13:00 WITA di
Kabupaten Tanah Laut: Takisung, Pelaihari, Kurau, Panyipatan, Tambang Ulang, Batu Ampar,
Kabupaten Kotabaru: Pulaulaut Barat, Hampang, Pulaulaut Tengah,
Kabupaten Banjar: Aranio, Paramasan,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah: Batang Alai Timur,
Kabupaten Tabalong: Muara Uya,
Kabupaten Tanah Bumbu: Satui, Kusan Hulu, Angsana,
Kabupaten Balangan: Tebing Tinggi,
Kota Banjarmasin: Banjarmasin Selatan, dan sekitarnya.
Dan dapat meluas ke wilayah
Kabupaten Tanah Laut: Jorong, Bati Bati, Kintap, Bajuin,
Kabupaten Kotabaru: Pulaulaut Selatan, Pulaulaut Timur, Kelumpang Hulu, Sungaidurian,
Kabupaten Banjar: Aluh Aluh, Tatah Makmur,
Kabupaten Tabalong: Haruai, Jaro,
Kabupaten Tanah Bumbu: Sungai Loban, Mantewe, Kuranji,
Kabupaten Balangan: Halong, dan sekitarnya.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pkl 16:00 WITA
Prakirawan BMKG Kalimantan Selatan
https://www.bmkg.go.id


SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Kamis 9 Maret 2023
Pemantauan Keadaan Bendungan Telaga Langsat, Sungai Kalumpang, Sungai Simpur, Sungai Daha Utara, dan Daha Barat, pada hari ini melalui laporan Relawan TRC Kecamatan dan dilaporan dalam keadaan Normal dan Aman.






SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023.


Sumber : https://www.bmkg.go.id
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023
Halo Sobat BPBD, sebelum kita memulai aktifitas hari besok, ada baiknya cek dulu prakiraan cuaca, dan prakiraan gelombang untuk hari besok Kamis 9 Maret 2023. sebagai berikut :



Sumber : Instagram @cuacakalsel
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023.
UPDATE Peringatan Dini Cuaca Kalimantan Selatan tgl 8 Maret 2023 pkl 12:45 WITA masih berpotensi terjadi Hujan Sedang-Lebat yang dapat disertai Kilat/Petir dan Angin Kencang pada pkl. 13:00 WITA di
Dan dapat meluas ke wilayah :
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pkl 15:00 WITA
Prakirawan BMKG Kalimantan Selatan
https://www.bmkg.go.id


SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023.
Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain :
Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera ? Jawa – Nusa Tenggara ? Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).
Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600-2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk, 2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600-2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.
Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia. Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal, proses pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.
Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin tinggi. Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004 mencapai 220 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan adat-istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial. Kondisi ini potensial menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.
Sumber : https://bnpb.go.id
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023
INFORMASI TEKNIS:
Pada skala global, beberapa indeks masih menunjukkan nilai yang signifikan seperti SOI (+10.5) cukup mendukung untuk pertumbuhan awan di wilayah Indonesia. MJO aktif pada kuadran 7 (Western Pasific), menunjukkan kondisi yang kurang signifikan terutama untuk Indonesia. Aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator diprakirakan aktif di sebagian wilayah Sumatera bag tengah dan utara, Kep. Riau, Kalimantan Barat bag utara dalam sepekan ke depan. Sehingga, faktor-faktor tersebut mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Terpantau Bibit Siklon Tropis 97S di Teluk Carpentaria dan Bibit Siklon Tropis 98S terpantau berada di Laut Natuna utara Pontianak yang membentuk daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Laut Cina Selatan hingga Laut Natuna. Selain itu, Sumatera Barat hingga Bengkulu, dari perairan barat Bengkulu hingga Selat Sunda, di Laut Jawa, dari perairan selatan Kalimantan Tengah hingga Selat Makassar bagian selatan, di Kalimantan Utara, dari Laut Seram hingga Papua Barat bagian barat, di perairan utara Papua, dan di Papua. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilistik model diprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terdapat di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Kep. Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua.
INFORMASI PUBLIK:
Pada sepekan ke depan terdapat peningkatan intensitas hujan yang disebabkan oleh aliran massa udara dingin dari Asia yang signifikan dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di wilayah Indonesia. Beberapa wilayah yang berpotensi hujan lebat pada periode ini antara lain sebagian besar Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Kep. Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua. Potensi hujan cenderung terdapat pada siang-malam hari.
PERINGATAN DINI:
Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu kedepan di wilayah:
Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam, yaitu melalui :
Diperbarui Tanggal 6 Maret 2023, 14.00 WIB
Prakirawan BMK
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS
08 – 14 MARET 2023
BPBD Kab. HSS, Kandangan Rabu 8 Maret 2023
Prakiraan Cuaca Mingguan Kalimantan Selatan untuk tanggal 08 – 14 Maret 2023 :



Sumber : Instagram @cuacakalsel
SALAM TANGGUH SALAM KEMANUSIAAN – BPBD Kab. HSS